Kupang, -Mentari baru saja menampakkan wajahnya di ufuk timur ketika Oskar Loluk, lelaki tua yang sudah puluhan tahun bersahabat dengan laut, berangkat mencari rezeki. Langkahnya mantap, meski tubuh renta itu tak lagi setangguh masa mudanya. Di bibir pantai Lifuleo, Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, riak ombak menyambutnya dengan tenang, seolah memberi restu pada seorang nelayan yang menggantungkan hidupnya pada pukat dan arus pasang-surut.
Pagi itu, Selasa, 18 Maret 2025, tak ada tanda-tanda bahaya. Oskar melemparkan jaring ke air, berharap mendapatkan tangkapan yang cukup untuk mengisi periuk di rumah. Tetapi, laut yang selama ini menjadi sahabatnya, ternyata menyimpan mara bahaya di balik permukaan yang tenang.
Saat ia mengangkat jaring, memastikan hasil tangkapannya, sesuatu yang dingin dan kasar menyergap pergelangan tangannya. Dalam sekejap, lengannya seperti terjepit oleh besi hidup. Ia tak sempat berpikir, hanya merasakan nyeri yang begitu menyayat, seolah ada parang raksasa yang hendak merenggut separuh tangannya. Seekor buaya, penghuni tak kasatmata dari perairan itu, telah menancapkan taringnya yang tajam ke dagingnya.
Oskar menjerit, suaranya menggema di antara ombak dan semilir angin pesisir. Ia meronta, mencoba menarik tangannya, tetapi predator itu lebih kuat. Darah mengalir, mencemari laut yang seketika berubah menjadi merah pekat.
Di kejauhan, Ayub Loluk, anaknya, dan seorang pemuda bernama Rison Tui, mendengar jeritan itu. Tanpa ragu, mereka berlari, melawan batas antara takut dan keberanian. Mereka tahu, satu detik saja terlambat, Oskar bisa menjadi santapan si buas. Dengan kayu dan batu, mereka menyerang, menghantam kepala buaya itu, memaksanya melepas cengkeramannya.
Setelah perjuangan yang terasa seperti selamanya, buaya itu akhirnya melepaskan gigitan dan menghilang ke dalam kegelapan air, meninggalkan Oskar yang terkulai dengan tangan nyaris terputus.
Warga yang mendengar kejadian itu segera bergegas membantu. Dalam kondisi lemah dan berlumuran darah, Oskar dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, Felip Baba, saksi yang menyaksikan semuanya, segera menghubungi pihak berwajib.
Serangan ini bukan yang pertama terjadi, dan barangkali tidak akan menjadi yang terakhir. Air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi para nelayan di Lifuleo, kini berubah menjadi ranah teror yang mengintai di setiap gelombangnya. Sampai kapan mereka harus hidup dalam ketakutan? Sampai kapan nyawa harus menjadi taruhan hanya demi sesuap nasi?
Laut memang tak pernah benar-benar bisa dijinakkan, dan di bawah permukaannya, predator-predator purba masih menunggu dalam diam.

Tinggalkan Balasan