Darah di Ujung Laras: Tragisnya Nyawa yang Melayang di Nifuboke

Kefamenanu,-Pagi yang seharusnya damai di Desa Nifuboke, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), berubah menjadi mimpi buruk. Senapan yang semula diarahkan untuk memburu babi hutan justru menumbangkan nyawa seorang petani. Yakobus Mone (59), seorang pria yang selama ini setia merawat ternak, kini terbujur kaku. Darahnya meresap ke tanah yang seharusnya menjadi saksi kehidupan, bukan kematian.

Selasa, 18 Maret 2025, sekitar pukul 08.30 WITA, Hero Irinius Mage Manek (39) bersama saudaranya sedang berburu di area Nefonikis. Sebuah senapan angin PCP Marauder kaliber 4,5 mm dalam genggamannya. Dalam keheningan pagi, pelatuk pun ditarik. Seekor babi liar, atau setidaknya yang mereka kira liar, roboh di tempat.

Namun, tak lama kemudian, dua saksi yang sedang merokok di sekitar lokasi mendengar suara tembakan. Mereka bergegas mendatangi sumber suara dan menemukan pemandangan yang mengejutkan—babi yang tertembak bukanlah hewan liar, melainkan milik seseorang.

Sang pemilik ternak merasa dirugikan. Dengan nada keberatan, ia menegur Hero dan menuntut pertanggungjawaban. Kata-kata berbalas, ketegangan mulai menggantung di udara. Merasa situasi perlu diselesaikan, pemilik babi memanggil Yakobus Mone, orang yang selama ini bertanggung jawab merawat ternaknya.

Yakobus datang, bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan amarah yang menggelegak. Ia menuntut agar babi yang mati itu dibawa pulang sebelum perbincangan lebih lanjut. Namun, nada tinggi dan ketegangan yang tak kunjung reda membuat situasi kian panas.

Menurut keterangan beberapa saksi, Yakobus mencabut parang, melangkah maju ke arah Hero. Ia bahkan sempat memegang ujung laras senapan angin yang masih dalam genggaman pelaku.

Senapan meletus. Peluru menembus tubuh Yakobus. Dalam sekejap, tubuhnya terhuyung lalu ambruk ke tanah. Darah mengalir deras, menyerap ke bumi, seakan menyampaikan pesan bahwa nyawa telah berpulang.

Tak ada teriakan panjang, hanya keheningan yang menggantung. Hero, yang masih memegang senapan, berdiri terpaku. Ia mengaku tak berniat membunuh. “Senapan meledak secara tidak sengaja,” katanya kemudian.

Namun, pertanyaan besar pun muncul: Benarkah ini kecelakaan, atau ada tangan yang dengan sadar menarik pelatuk?

Tak butuh waktu lama, pihak kepolisian segera turun tangan. Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, melalui Kasubsi PIDM Polres TTU, Ipda Markus Wilco Mitang, menjelaskan bahwa penyelidikan tengah berlangsung untuk mengungkap kebenaran di balik insiden ini.

“Pukul 15.10 WITA, korban dievakuasi dari lokasi kejadian dan langsung dibawa ke RSUD Kefamenanu untuk dilakukan pemeriksaan luar serta autopsi,” ungkap Ipda Markus.

Selain itu, polisi juga mengamankan senapan angin yang digunakan dalam kejadian ini sebagai barang bukti.

“Senapan angin yang digunakan oleh terduga pelaku merupakan jenis PCP Marauder kaliber 4,5 mm,” lanjutnya.

Meski Hero bersikeras bahwa kejadian ini murni kecelakaan, polisi tidak serta-merta menerima pengakuannya. Ada terlalu banyak perbedaan dalam keterangan yang diberikan oleh pelaku dan para saksi.

“Kami masih mendalami keterangan pelaku dan membandingkannya dengan kesaksian di lapangan untuk memastikan bagaimana kejadian ini benar-benar terjadi,” tegas Ipda Markus.

Apakah Yakobus benar-benar menjadi korban kecelakaan, atau ada unsur kesengajaan dalam insiden ini? Apakah letusan itu hanya akibat dari situasi yang semakin panas, atau ada niat yang tersembunyi di balik genggaman pada pelatuk?

Satu yang pasti: Yakobus Mone telah pergi, dan tak ada peluru yang bisa membalikkan waktu. Darah yang telah tumpah di tanah Nifuboke tak hanya meninggalkan noda, tetapi juga pertanyaan yang harus dijawab oleh hukum.

Kini, masyarakat menunggu kejelasan. Karena dalam sebuah perselisihan, satu detik keputusan yang salah bisa mengubah segalanya—dari perdebatan menjadi tragedi, dari persengketaan menjadi kematian.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *