Kupang,– Di tengah gurun pembangunan yang kerap melahirkan fatamorgana janji-janji, Yayasan Ningsih Sejahtera (YNS) hadir dengan klaim sebagai oase bagi mereka yang terpinggirkan.
Rabu, 2 April 2025, peresmian YNS di TDM II digelar dengan kehadiran sejumlah tokoh berpengaruh: Ketua Kadin NTT, Boby Lianto, anggota DPRD NTT Fraksi PKB Ana Kolin, para pengurus DPW PKB NTT,Kristo Blasin,masyarakat, hingga relawan yang menyimpan asa di tengah realitas yang sering mengabaikan mereka.
Di balik kemegahan acara peresmian ini, terselip pertanyaan besar: Apakah YNS akan menjadi kapal penyelamat bagi mereka yang karam dalam ketertinggalan atau hanya menjadi perahu kecil yang terombang-ambing di samudra retorika?
Yusinta Nenobahan, pendiri YNS, menyuarakan visi mulia: membantu korban bencana longsor di Desa Kuatae, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten TTS. Dengan nada yang penuh determinasi, ia menawarkan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membangun rumah layak huni bagi para korban, menggunakan basis data yang diklaim telah terhimpun. Namun, seperti palu yang menghantam dinding baja, niat baik itu akan berhadapan dengan birokrasi yang lamban dan terfragmentasi.
Retorika “mediator” yang didengungkan YNS bisa jadi hanya sebatas gema di lorong-lorong kosong, jika tanpa langkah konkret yang mampu menembus labirin kepentingan politik dan kebijakan yang setengah hati. Dan pertanyaan yang belum terjawab adalah: Seberapa akurat basis data yang dijadikan landasan? Apakah ia cukup kuat untuk menembus belukar masalah yang mengakar selama puluhan tahun?
“Yang dibutuhkan di NTT bukan hanya jaringan internet, HP tanpa kuota percuma,” cetus Yusinta dengan lantang, seolah ingin menampar realitas pembangunan yang seringkali hanya menampilkan wajah gemerlap tanpa menyentuh inti masalah.
Di daerah-daerah yang terisolasi, pembangunan infrastruktur teknologi tanpa akses yang merata hanyalah ilusi. Internet yang disebut-sebut sebagai jembatan penghubung hanya menjadi menara gading bagi mereka yang berada di ujung peradaban.
YNS mengklaim hadir untuk memperbaiki itu, tapi apakah ia memiliki strategi nyata atau hanya sekadar idealisme yang terperangkap dalam angan?
Janji untuk Kaum Perempuan dan Disabilitas: Tulang Punggung yang Terlupakan
Berbicara soal pemberdayaan perempuan, Yusinta menekankan bahwa perempuan NTT adalah tulang punggung keluarga, mencapai 90% dari peran penghidupan.
Namun, apakah YNS benar-benar akan menjadi pelindung bagi mereka atau hanya menjadi slogan kosong di tengah acara-acara seremonial? Program konseling yang dijanjikan, seberapa jauh ia mampu menyentuh akar permasalahan dan bukan hanya menjadi retorika yang menggema tanpa tindakan nyata?
Lebih jauh, YNS juga mengklaim akan mendukung kaum disabilitas melalui program-program inklusif. Namun, tanpa strategi yang jelas dan implementasi yang terukur, komitmen itu hanya akan menjadi hiasan kata-kata yang berakhir di kertas laporan.
Di bidang ekonomi, YNS mengumumkan kolaborasi dengan Kadin NTT untuk memberdayakan UMKM lokal. Namun, pemberdayaan tanpa fondasi yang kuat hanya akan menciptakan kesenjangan yang lebih dalam. Rencana optimalisasi Bendungan Temef untuk sektor pertanian pun didengungkan, namun apakah ini hanya sebatas ambisi besar tanpa peta jalan yang jelas?
Yusinta menyadari adanya pro dan kontra terhadap keberadaan YNS. Ia mengklaim bahwa kritik justru menjadi bahan bakar untuk berinovasi. Namun, dalam realitas yang sering tak ramah, kritik juga bisa menjadi bara yang membakar niat baik jika tidak diolah dengan bijak.
Peresmian YNS bukan sekadar pembukaan kantor, melainkan deklarasi atas mimpi besar yang dibenturkan pada tembok-tembok realitas. Apakah YNS akan menjadi solusi atau hanya ilusi? Apakah ia akan menjadi pelita bagi NTT atau hanya menjadi bayang-bayang dari ambisi yang tak pernah terwujud?
YNS hadir dengan semangat yang besar. Namun, seperti layang-layang yang terbang tinggi, ia tetap membutuhkan benang kuat yang menghubungkannya dengan realitas tanah tempat ia berpijak.

Tinggalkan Balasan