Kupang,-Di saat bencana memporak-porandakan kehidupan banyak orang, di saat air mata masih mengalir di wajah para korban tanah longsor di Desa Kuatae, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. ada seseorang yang memilih untuk bertindak. Ada seseorang yang tidak hanya bicara, tapi bergerak, turun langsung, mengulurkan tangan, dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Dialah Yusinta Ningsih Nenobahan (YNS)—sosok yang kini justru dihujani fitnah, serangan, dan tuduhan murahan dari oknum yang entah tidak punya hati atau sekadar hobi merusak kebaikan.
Serangan terhadap Yusinta bukan lagi sekadar kritik, tapi sudah menjurus ke upaya menjatuhkan. Akun-akun anonim di media sosial mulai bermunculan, melancarkan narasi busuk, mencoba menggiring opini bahwa apa yang dilakukan YNS adalah pencitraan, ada kepentingan tersembunyi, atau bahkan hanya drama untuk mencari perhatian. Inilah wajah asli dari mereka yang tidak tahan melihat ada orang berbuat baik. Mereka lebih nyaman dengan penderitaan orang lain asalkan tidak ada yang lebih bersinar dari mereka.
Namun, bagaimana respons Yusinta? Ia tidak goyah. Tidak mundur. Tidak peduli.
“Saya tidak peduli dengan tudingan apa pun. Saya lakukan ini tanpa kepentingan apa pun, harus dipahami!” tegasnya saat ditemui di Kantor YNS. Kata-katanya keras, penuh ketegasan, sekaligus tamparan keras bagi mereka yang hanya bisa berkomentar tanpa melakukan apa pun.
Yusinta tidak butuh pengakuan, tidak butuh tepuk tangan, apalagi restu dari para tukang nyinyir di media sosial. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah bagaimana bantuan bisa terus mengalir ke para korban. Sementara mereka yang hanya bisa berkoar sibuk bermain jari di atas keyboard, Yusinta sibuk mengangkat beban di pundaknya untuk mereka yang kehilangan segalanya.
Faktanya, hingga hari ini, bantuan dari YNS tidak pernah berhenti. Makanan, pakaian, obat-obatan, hingga kebutuhan lain terus dikirimkan. Dia bukan hanya bicara. Dia bertindak.
Dan inilah pertanyaannya: Di mana para pengkritik itu?Di mana mereka saat warga kehilangan rumah?Di mana mereka saat anak-anak menangis karena kelaparan?Di mana mereka saat para korban kehilangan harapan?Jawabannya: Tidak ada. Tidak terlihat. Tidak berbuat apa-apa.
Yang mereka lakukan hanyalah duduk nyaman, memainkan jari di ponsel, mengarang teori konspirasi, dan berharap bisa menghancurkan orang yang benar-benar bekerja.
Tetapi, ada satu hal yang pasti: fitnah tidak akan menghentikan Yusinta. Dia sudah terlalu sering melihat bagaimana kebaikan selalu diuji. Dia tahu bahwa di dunia ini, semakin besar kebaikan yang dilakukan, semakin keras pula serangan yang akan datang. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Yusinta Ningsih Nenobahan sudah memilih jalannya—dan dia tidak akan mundur. Sementara yang lain sibuk bicara, dia akan terus bergerak.
Sementara yang lain sibuk mencari kesalahan, dia akan terus membantu.
Sementara yang lain hanya berkomentar, dia akan terus berbuat.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat mereka yang hanya bisa nyinyir. Sejarah akan mengingat mereka yang benar-benar berjuang.
Didampingi sang suami tercinta dan Sekretaris Jenderal YNS Ayub Tasoin,Yusinta Nenobahan tetap berkomitmen sebagai seorang ibu dan juga anak asli TTS tetap hadir berjuang menunjukan rasa empati bersama- sama Saudara yang tertimpa musibah secara khusus anak- anak. ( Arnold)

Tinggalkan Balasan