Rote Ndao kembali berduka. Di awal tahun 2025, tragedi menyambar lagi. Sufeni Sulla Nassa, seorang ibu asal Dusun Feama, Desa Temas, Kecamatan Rote Barat Laut, ditemukan tewas akibat sambaran petir saat perjalanan pulang dari sawah pada 4 Januari 2025, pukul 14.00 WITA.
Menurut saksi Markus Nassa, korban sempat berbagi kopi dengannya dan seorang sepupu mereka di tengah jalan. Tak lama setelah mereka berpisah, suara petir terdengar memekakkan telinga. Markus, yang mendapati korban tergeletak di tanah, awalnya mengira Sufeni sedang beristirahat karena takut. Namun, kekhawatiran berubah menjadi kenyataan pahit. Sufeni telah meninggal dunia.
“Awalnya saya kira dia hanya berbaring karena ketakutan. Tapi saat saya mendekat, dia sudah tak bernyawa,” ungkap Markus dengan nada pilu.
Ini bukan kali pertama petir memakan korban di Rote Ndao. Dalam sebulan terakhir, dua insiden serupa terjadi, mengakibatkan korban jiwa. Namun, apa yang sudah dilakukan untuk mencegah kejadian serupa? Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak berwenang.
Berapa banyak lagi nyawa yang harus melayang sebelum tindakan konkret diambil? Edukasi bahaya petir di wilayah rawan dan penyediaan perlindungan harus menjadi prioritas. Setiap warga perlu memahami risiko berada di ruang terbuka saat cuaca buruk. Tidak ada alasan untuk mengabaikan keselamatan.
Ini lebih dari sekadar angka atau berita duka. Ini adalah panggilan darurat bagi kita semua. Jangan sampai tragedi ini menjadi rutinitas tahunan. Jangan tunggu korban berikutnya.
Kesadaran dimulai dari sekarang. Rote Ndao, mari bergerak sebelum terlambat.

Tinggalkan Balasan