“Tirai Tipu Muslihat dan Hoaks Membantai Citra Pertamina: Benarkah Ada Dalang di Balik Lampu Padam?”

Kupang, – Dalam menghadapi gelombang informasi keliru yang mengancam keamanan dan kepercayaan publik, Pertamina Patra Niaga secara tegas meluruskan empat hoaks besar yang beredar luas di media sosial terkait bahan bakar minyak (BBM) dan layanan SPBU.

Kesalahan informasi ini tidak hanya merusak nama baik BUMN yang menjadi tulang punggung penyedia energi nasional, tetapi juga menodai kredibilitas pemerintah yang tengah berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Melalui pernyataan resmi Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, perusahaan ini mengungkap fakta-fakta krusial yang selama ini diselewengkan demi kepentingan tertentu yang merugikan konsumen dan publik luas.

Hoaks Pengujian RON Menggunakan Alat Portabel, Ilmu atau Tipuan?Isu pertama yang dibongkar adalah klaim palsu terkait pengujian nilai Research Octane Number (RON) BBM dengan alat portabel seperti Oktis-2.

Pertamina menegaskan bahwa alat ini hanya mengukur sifat dielektrik bahan bakar, bukan nilai oktan yang sesungguhnya, sehingga pengujian ini bukan ukuran resmi dan bahkan tidak memiliki dasar ilmiah yang diakui secara internasional.

Satu-satunya metode valid dan sah adalah menggunakan mesin CFR (Cooperative Fuel Research Engine) berdasarkan standar ASTM D2699. Misinformasi ini berpotensi menyesatkan konsumen dalam menilai kualitas BBM yang sebenarnya.Isu Restriksi Pengisian BBM, Sengaja Ditunggangi untuk Menebar KekhawatiranHoaks kedua yang mencuat adalah tuduhan adanya kebijakan pembatasan pengisian BBM—mobil hanya boleh isi sekali setiap 7 hari, motor 4 hari, dan ada larangan bagi penunggak pajak kendaraan.

Informasi ini tegas dibantah pertamina. Tidak terdapat pemberlakuan pembatasan seperti itu. Penyaluran BBM subsidi berlangsung normal dan disesuaikan dengan mekanisme pemerintah agar tepat sasaran. Informasi bohong ini berpotensi memicu keresahan masyarakat sekaligus menggugat kebijakan nasional yang sebenarnya adil dan transparan.

Kebohongan Video Kebakaran SPBU, Menggunakan Rekaman Lama untuk Merusak ReputasiHoaks ketiga melibatkan video kebakaran SPBU yang dikaitkan dengan kebijakan pembatasan BBM. Video tersebut ternyata adalah rekaman lama dari insiden kebakaran yang terjadi di Aceh pada 2024.

Namun, narasi yang menyesatkan disematkan sehingga menimbulkan kesimpulan keliru seakan-akan kebakaran dipicu kebijakan baru, padahal faktanya berbeda jauh. Ini bagian dari kampanye hitam yang memperkeruh suasana dan mengaburkan fakta penting.

Kerumunan di SPBU Lumajang, Bukan ‘Geruduk’ Melainkan Berteduh Karena HujanVideo viral keempat yang menggambarkan seolah-olah warga “menggeruduk” SPBU di Lumajang juga diungkap fakta sebenarnya. Peristiwa tersebut terjadi pada 17 September 2025 saat hujan deras, di mana warga yang sedang menonton karnaval terpaksa berteduh di area SPBU yang sudah tutup. Tidak ada aksi penjarahan, melainkan hanya kerumunan yang sempat tidak terkendali karena dipengaruhi cuaca dan sejumlah warga yang terpengaruh alkohol. Klarifikasi ini menepis narasi negatif yang coba dibangun untuk memperkeruh situasi.

Ajakan Pertamina: Kritik Konstruktif, Tolak Hoaks yang Merusak

Roberth MV Dumatubun mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dan berhati-hati menerima informasi terkait BBM. Dia menegaskan, “Kami meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang belum diverifikasi, terutama pengujian tanpa dasar ilmiah, isu pembatasan fiktif, dan video lama yang dipelintir konteksnya.

” Dalam era serba cepat dan terbuka seperti sekarang, masyarakat diharapkan memanfaatkan kanal resmi Pertamina seperti Call Center 135 dan media sosial resmi untuk memperoleh kabar yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.Perang melawan hoaks ini bukan sekadar soal reputasi perusahaan, tetapi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan kestabilan sosial.

Jika informasi salah dibiarkan menyebar, dampaknya bisa meluas dan berpotensi mengganggu ekonomi serta kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *