“Dari Helai Tenun ke Gelar Sarjana: Kisah Perempuan Fafinesu yang Menenun Harapan”

Insana Fafinesu,– Di sebuah rumah sederhana di Desa Fafinesu (Fatutusi), suara alat tenun tradisional terdengar saban pagi. Di balik alat itu duduk seorang perempuan 51 tahun bernama Mari Tefa, yang tangannya tak pernah berhenti menari di atas benang warna-warni.

Sejak tahun 1994, Mari menenun bukan sekadar untuk tradisi—melainkan untuk menghidupi dan menyekolahkan ketiga anaknya. Dari hasil tenunannya, dua di antara mereka kini telah menyandang gelar sarjana kesehatan: satu menjadi sarjana Kesehatan Lingkungan (Kesling), dan satu lagi bidan. Sementara anak bungsunya baru saja menamatkan pendidikan SLTA.

“Kalau bukan dari tenun, anak-anak tidak bisa sekolah,” tutur Maria dengan suara lirih. “Saya tidak punya usaha lain. Hanya benang dan tangan ini yang bantu saya.”

Dalam sebulan, Maria bisa menghasilkan sekitar 20 helai kain tenun — berupa selendang, serta sarung perempuan dan laki-laki. Harga jualnya bervariasi:

Selendang: Rp50.000 per lembar

Sarung wanita/laki-laki: Rp650.000 hingga Rp750.000

Pembeli datang langsung ke rumahnya. Di sana, mereka disambut dengan senyum hangat Maria, yang selalu mengingat setiap helai kain sebagai “cerita” perjuangan hidupnya.

Meski tanpa modal besar, ia tetap bertahan. “Kalau tidak tenun, saya buat marning jagung atau keripik pisang,” katanya sambil tertawa kecil. “Yang penting dapur tetap hidup.”

Suaminya, Luthardus Petrus Akoit (54), mendukung sepenuhnya. Ia tahu, setiap benang yang dijalin oleh istrinya adalah simbol ketekunan dan kasih seorang ibu.

Kini, di tengah gempuran zaman dan produk pabrikan, tenun tangan Mari Tefa menjadi saksi nyata bahwa kemandirian perempuan desa masih hidup. Bahwa di pelosok seperti Fafinesu, ekonomi rumah tangga bisa bertahan bukan karena bantuan besar, tetapi karena ketulusan kerja dan cinta seorang ibu.

> “Saya hanya ingin anak-anak jadi orang berguna,” kata Maria. “Itu saja kebahagiaan saya.”

Di balik keindahan motif tenun Fafinesu, tersimpan kisah perjuangan yang menembus generasi — tentang seorang perempuan yang menenun bukan hanya kain, tapi juga masa depan.

Kisah Maria Tefa menjadi potret kecil dari ribuan perempuan penenun di pelosok Nusa Tenggara Timur yang menopang ekonomi keluarga tanpa sorotan publik. Di tangan mereka, tradisi dan harapan berjalin erat dalam setiap benang yang menghidupi pendidikan anak-anak bangsa.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *