Gereja Megah Berdiri dalam Empat Bulan, Gubernur NTT: Ini Karya Iman, Solidaritas, dan Harapan Umat

TTU – Sebuah karya iman yang lahir dari semangat persaudaraan dan gotong royong umat resmi terukir di Kabupaten Timor Tengah Utara. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri langsung pentabisan dan peresmian Gereja St. Maria Goreti Paroki St. Petrus dan Paulus Lurasik, Senin (15/12/2025), sebuah rumah ibadah megah yang dibangun hanya dalam waktu empat bulan.

Pentabisan Gereja dipimpin langsung oleh Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, didampingi Uskup Keuskupan Atambua Mgr. Dominikus Saku. Peristiwa sakral ini menjadi momentum iman yang bersejarah, disaksikan ribuan umat serta tokoh nasional dan daerah.

Gereja St. Maria Goreti berdiri berkat dukungan Himpunan Bersatu Teguh (HBT) bersama umat setempat. Dari peletakan batu pertama pada Juli 2024 hingga rampung menjelang Natal, pembangunan gereja ini menjadi simbol nyata bahwa persatuan, komitmen, dan pelayanan mampu melampaui keterbatasan.

Gubernur NTT: Gereja Ini Termasuk yang Termegah di NTT

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi mendalam kepada HBT dan seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai pembangunan Gereja St. Maria Goreti sebagai karya luar biasa, baik dari sisi kecepatan, kualitas, maupun makna spiritualnya.

“Saya sudah berkeliling hampir seluruh wilayah NTT. Secara jujur, Gereja ini termasuk salah satu yang paling megah. Dibangun hanya empat bulan, ini bukan pekerjaan biasa. Ini adalah karya iman dan solidaritas,” ujar Gubernur.

Menurutnya, apa yang dilakukan HBT merupakan teladan tentang bagaimana kelebihan yang dianugerahkan Tuhan dapat digunakan untuk melayani sesama dan memperkuat kehidupan iman umat.

“Kita semua yang diberi kelebihan oleh Tuhan punya tanggung jawab untuk berbagi. Apa yang dilakukan HBT adalah contoh nyata kepedulian dan kasih yang hidup,” tegasnya.

Selain mengapresiasi pembangunan fisik, Gubernur juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan, ketertiban, dan kualitas pengelolaan Gereja agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Bangunan ini sudah sangat baik. Tugas kita berikutnya adalah merawatnya. Gereja harus menjadi ruang ibadah yang bersih, nyaman, dan bermartabat,” katanya.

Ia berharap standar pengelolaan fasilitas publik di NTT, termasuk rumah ibadah, terus ditingkatkan agar sejajar dengan daerah lain di Indonesia.

HBT: Kami Bekerja dengan Semangat Pelayanan

Ketua Umum HBT Andreas Sofiandi menjelaskan bahwa pembangunan Gereja dilakukan dengan semangat pelayanan dan gotong royong. Sebagian besar material berasal dari sumber lokal, sementara kebutuhan lainnya didatangkan dari Jakarta.

“Kami berkomitmen Gereja ini selesai tepat waktu agar bisa digunakan umat pada perayaan Natal. Puji Tuhan, dalam empat bulan semuanya dapat diselesaikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa fokus utama HBT bukan pada kemegahan semata, melainkan memastikan Gereja dapat digunakan umat dengan layak dan penuh sukacita.

Uskup Atambua: Gereja yang Menyatukan Iman dan Kepedulian

Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku menilai Gereja St. Maria Goreti sebagai bangunan yang memadukan nilai spiritualitas, kepedulian sosial, dan perhatian terhadap lingkungan.

“Ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi perwujudan iman umat yang hidup. Terima kasih kepada HBT dan seluruh umat yang telah bekerja dengan dedikasi luar biasa,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan aktif umat selama proses pembangunan, yang menurutnya menjadi fondasi kuat bagi kehidupan rohani Gereja ke depan.

Rangkaian peresmian diawali dengan pemberkatan Taman Doa Santo Lambertus dan Bukit Andreas Lopo Erha, dilanjutkan pemberkatan Gereja, penyerahan kunci, penandatanganan prasasti, serta pemberkatan patung Bunda Maria Goreti sebagai pelindung Gereja.

Kini, Gereja St. Maria Goreti Lurasik resmi digunakan dan diharapkan menjadi pusat pelayanan iman, penguatan persaudaraan, serta sumber harapan baru bagi umat di Kabupaten Timor Tengah Utara.

Sebuah Gereja telah berdiri. Namun lebih dari itu, sebuah kesaksian iman, persatuan, dan kasih kini hidup dan berakar di tanah perbatasan Nusa Tenggara Timur.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *