Kupang -Di balik layar ponsel dan laptop kita, ada kisah-kisah yang tak hanya berhenti sebagai berita—mereka menjadi pemicu, percikan api dalam kegelapan pikiran seseorang yang sedang berjuang melawan depresinya. Setiap kali sebuah video tragis tentang aksi bunuh diri dibagikan, kita tak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membuka luka, memperkuat rasa putus asa bagi mereka yang tengah berada di ujung jurang.
Yusinta Ningsih Nenobahan, Pengurus Pusat Partai PKB sekaligus pendiri Yayasan YNS, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena ini. Dalam unggahannya, ia dengan tegas menghimbau masyarakat untuk berhenti menyebarkan video atau konten yang memperlihatkan aksi bunuh diri. Bukan tanpa alasan, ia memahami bahwa bagi sebagian orang, video semacam itu mungkin menjadi pengingat akan pentingnya kesehatan mental. Namun, bagi yang lain—terutama mereka yang tengah dilanda keputusasaan—tayangan itu justru bisa menjadi validasi bahwa mengakhiri hidup adalah jalan keluar.
Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi yang membangun, bukan arena yang memperparah luka. Bayangkan seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya karena depresi, lalu mendapati video tragis itu berseliweran di beranda media sosialnya. Setiap kali ia melihatnya, luka itu terbuka lagi, bertambah dalam, mengikis ketabahan yang tersisa. Belum lagi jika video tersebut sampai ke orang-orang yang sedang berjuang dalam sunyi, yang merasa tak didengar, tak dipedulikan.
Kita harus lebih bijak. Jika melihat ada teman, saudara, atau bahkan orang asing yang menunjukkan tanda-tanda depresi, jangan abaikan. Jangan tunggu mereka meminta tolong—karena sering kali, mereka sudah terlalu lelah untuk melakukannya. Ajak bicara, dengarkan, buat mereka merasa bahwa dunia ini masih punya ruang untuk mereka.
Lebih jauh, Yusinta juga menyoroti perlunya tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap penyebaran konten semacam ini. Bukan sekadar peringatan, tetapi sanksi yang benar-benar memberikan efek jera. Jangan biarkan algoritma media sosial menjadi mesin yang mempercepat kehancuran mental seseorang.
Di era digital ini, jari-jari kita memiliki kuasa lebih besar dari yang kita kira. Dengan satu klik, kita bisa menyelamatkan atau justru menjerumuskan seseorang lebih dalam ke dalam jurang keputusasaan. Maka, sebelum menekan tombol “bagikan”, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini akan membawa manfaat, atau justru menambah derita?
Mari jadikan media sosial sebagai ruang yang lebih manusiawi. Stop menyebarkan tragedi, mulai menyebarkan empati.

Tinggalkan Balasan