Senja di Giovanni: “Cahaya Sirilus Wali yang Tak Pernah Padam”

Kupang, – Langit di atas SMAK Giovanni Kupang seolah turut menjadi saksi, menahan napas dalam sendu yang bercampur kebanggaan. Aula sekolah yang selama ini menjadi tempat tumbuhnya ribuan jiwa kini bergemuruh, bukan oleh derap langkah siswa yang bergegas ke kelas, melainkan oleh tepuk tangan panjang yang mengiringi seorang guru besar, seorang arsitek pendidikan, seorang maestro pengabdian—Sirilus Wali—menuju dermaga purna tugasnya.

32 tahun bukan sekadar angka, tetapi sebuah perjalanan panjang, jejak yang terpatri dalam ribuan hati.

Sirilus Wali bukan hanya seorang pendidik, ia adalah mercusuar yang sinarnya menerangi jalan ribuan siswa, membimbing mereka bukan hanya dalam angka dan huruf, tetapi juga dalam nilai, karakter, dan kebijaksanaan.

Sejak awal masa baktinya, ia telah membuktikan bahwa seorang guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga penjaga nyala api semangat dan harapan.

Dari era papan tulis kapur hingga era digital, dari masa di mana pendidikan masih bersahaja hingga saat ini yang serba cepat, ia tetap menjadi pilar yang kokoh, tempat banyak anak muda bertumpu dan bertumbuh.

“Bapak Sirilus bukan hanya guru bagi kami, tetapi juga orang tua, sahabat, dan inspirasi. Beliau adalah kompas moral yang selalu menunjukkan arah yang benar,” ujar seorang alumni yang kini menjadi dokter, suaranya bergetar oleh kenangan.

Fanki Ola Demon, guru senior di SMAK Giovanni, tak kuasa menahan haru. Air matanya jatuh mengingat sosok yang telah lama menjadi tumpuan bagi para siswa dan rekan sejawatnya. “Beliau selalu mengajarkan ketulusan dan dedikasi, bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan tindakan,” ungkapnya.

Iche Tukan, seorang guru di SMAN 4 Kupang, turut memberikan penghormatan. “Jejak pengabdian Bapak Sirilus akan selalu terukir dalam sejarah SMAK Giovanni dan dalam narasi generasi bangsa. Tuhan memberkati perjalanan barunya.”

Bagi Sirilus Wali, mengajar bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hidup. Ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menghadirkan kehidupan ke dalam kelasnya. Ia mendidik dengan hati, membentuk karakter, membimbing dengan kasih sayang, dan menanamkan keberanian untuk bermimpi.

“Beliau seperti pohon yang akarnya menghujam dalam ke tanah, tetapi rantingnya tetap fleksibel mengikuti perubahan zaman. Ia beradaptasi tanpa kehilangan jati diri,” kata Anton Timo salah satu guru senior di SMA Giovanni Kupang.

Sirilus adalah sosok yang tidak hanya berada di dalam batas tembok sekolah. Ia memahami bahwa belajar juga bisa terjadi di luar ruang kelas, di antara dinamika kehidupan.

Kisahnya tentang bermain musik di Teddy’s Bar,Kupang dan Noelbaki, menambah warna dalam perjalanannya.

Ia pernah dijemput jam 9 malam dan baru diantar pulang pukul 3 pagi, tetapi semua pengalaman itu membentuknya menjadi pribadi yang lebih kaya, lebih mengerti tentang kehidupan, dan lebih mampu memahami siswanya.

“Kita harus belajar banyak dari anak-anak karena mereka seringkali lebih dahulu mengerti sesuatu,” ungkapnya suatu ketika, sebuah filosofi yang menjadi dasar dari cara ia mendidik.

Hari itu, di aula SMAK Giovanni, tepuk tangan terus menggema. Perpisahan ini bukan akhir, melainkan awal dari lembaran baru.

“Terima kasih atas warisan berharga yang telah Anda tinggalkan. Giovanni akan selalu menjadi rumah bagi Anda,” ucap RD Stef Mau penuh haru.

Sementara itu, Marianus Jelamu, Ketua Komite SMAK Giovanni, memberikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi Sirilus dalam memperbaiki gereja dan membangun komunitas sekolah. “Selamat memasuki masa purna tugas, Bapak Sirilus. Cahaya pengabdianmu tak akan pernah padam.”ungkap Marianus.

Sirilus Wali, sosok yang telah membentuk ribuan jiwa, kini menutup babak panjangnya sebagai guru. Namun, warisan yang ia tinggalkan—nilai, semangat, dan keteladanan—akan tetap hidup, bersemi dalam setiap langkah generasi yang ia bimbing.

Pensiunnya bukan senja yang meredup, melainkan fajar baru yang siap menyalakan cahaya di tempat yang berbeda.

Terima kasih, Bapak Sirilus. Cahaya pengabdianmu akan terus bersinar, menerangi jalan generasi yang akan datang.(***)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *