Kupang ,– Ancaman fenomena El Nino 2026 diprediksi mencapai level kuat dan diperkirakan berdampak hingga awal tahun 2027. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini dikenal memiliki karakteristik iklim kering dan rentan terhadap kekeringan.
Pakar sumber daya air dan infrastruktur, Dr. Ir. Melkior A. Lukas, ST., SP., MT, menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan harus bergerak cepat melakukan langkah mitigasi agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi krisis pangan dan krisis air.
Menurutnya, puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026 berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan. Dampaknya tidak hanya meningkatkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan, tetapi juga mengganggu sektor pertanian karena lahan persawahan dan perkebunan kehilangan pasokan air.
“Mitigasi tidak boleh dilakukan setelah bencana terjadi. Semua langkah harus dimulai sejak air masih tersedia agar masyarakat tetap memiliki cadangan air ketika musim kemarau mencapai puncaknya,” tegas Dr. Melkior.
Ia menilai pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan seluruh sarana dan prasarana penanggulangan bencana, mulai dari kendaraan tangki air, peralatan pendukung, hingga sumber daya manusia yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.
Lebih dari itu, penanganan kekeringan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan kerja sama antardaerah.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas melalui pemberdayaan petani, pengembangan teknologi pertanian modern, revitalisasi sektor pertanian dan perikanan berbasis desa, serta penguatan infrastruktur pangan seperti jaringan irigasi, gudang penyimpanan, dan sistem distribusi hasil pertanian.
Dr. Melkior juga mengajak masyarakat melakukan berbagai langkah mitigasi sejak dini. Salah satunya adalah memaksimalkan penampungan air melalui panen air hujan, pembangunan long storage, serta revitalisasi embung dengan pembersihan maupun pendalaman agar kapasitas tampung meningkat.
Selain itu, konservasi tanah perlu diperkuat melalui pembangunan biopori, sumur resapan, dan gerakan penghijauan dengan menanam pohon maupun tanaman penutup tanah yang mampu menjaga kelembapan tanah.
Ia juga mengingatkan pentingnya budaya hemat air. Menurutnya, setiap tetes air harus dikelola secara efisien karena menjadi sumber kehidupan masyarakat dan penopang utama sektor pertanian.
Di sektor pertanian, Dr. Melkior mendorong perubahan pola tanam menuju komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering seperti jagung, palawija, dan sorgum. Penerapan sistem irigasi yang efisien serta penggunaan mulsa untuk mengurangi penguapan air juga dinilai menjadi solusi efektif menghadapi musim kemarau panjang.
Dalam konteks pembangunan nasional, Dr. Melkior menyebut upaya mitigasi El Nino sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, air, dan energi sebagai fondasi kemandirian bangsa.
Implementasi nyata dari kebijakan tersebut terus dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di berbagai daerah, termasuk di Provinsi NTT.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan.
Keberadaan JIAT dinilai menjadi solusi strategis bagi wilayah-wilayah rawan kekeringan karena mampu menyediakan sumber air bagi petani meskipun curah hujan menurun akibat El Nino. Program tersebut juga diperkuat melalui percepatan pembangunan jaringan irigasi tersier agar distribusi air dapat dimanfaatkan secara optimal hingga ke lahan pertanian.
Dr. Melkior menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada curah hujan, tetapi pada kesiapan seluruh pihak dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.
“Mitigasi kekeringan harus menjadi gerakan bersama. Ketika pemerintah, masyarakat, petani, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu langkah, maka NTT akan mampu menghadapi El Nino sekaligus menjaga ketahanan pangan untuk masa depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan