Kupang – Aula megah Hotel Aston Kupang dipenuhi toga hitam. Senyum bahagia mengembang di wajah 36 wisudawan, tetapi di balik kebanggaan itu, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: Ke mana langkah kaki akan menuju setelah ini?
Dalam sambutannya mewakili Gubernur NTT, Asisten I Pemerintah Provinsi NTT, Dra. Erni Usboko, menyampaikan pesan yang tak sekadar seremonial, tetapi juga tamparan keras bagi para lulusan.
“Jangan hanya mengejar gaji besar di luar negeri jika kalian tak punya keterampilan!”
Ijazah, katanya, bukan sekadar lembaran kertas bertinta emas, tetapi sebuah amanah yang harus dibuktikan dengan aksi nyata. Dunia tak hanya butuh sarjana, tetapi petarung—orang-orang yang berani berjuang, jatuh, dan bangkit lagi.
Erni Usboko menekankan bahwa NTT bukan tempat yang harus ditinggalkan demi upah besar di negeri orang, melainkan tanah yang kaya akan potensi. “Jangan hanya menjadi pencari kerja, tetapi ciptakan peluang!” serunya.
Tanah Flobamorata menyimpan emas dalam bentuk lain: hasil bumi, laut yang luas, budaya yang kaya. Tetapi semua itu akan percuma jika hanya dijual mentah ke luar. NTT membutuhkan inovator, bukan hanya pekerja.
“Apakah 36 generasi baru ini akan menyebarkan keharuman atau justru sebaliknya?” tantangnya. Apakah mereka akan menjadi obor yang menerangi atau sekadar abu yang ditiup angin?
Bukan hanya para lulusan yang diuji, tetapi juga almamater mereka. STIM Kupang tidak boleh hanya menjadi pabrik ijazah, tetapi harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemikir dan pemimpin.
“STIM harus memiliki tenaga pengajar berkualitas, agar tidak kalah bersaing dengan perguruan tinggi lain,” tegasnya. Persaingan dunia akademik ketat. Jika tidak berbenah, STIM akan tertinggal, bukan hanya di NTT, tetapi di peta pendidikan nasional.
Di akhir sambutannya, Erni Usboko menutup dengan peringatan yang tajam. Dunia kerja bukan tempat bagi mereka yang hanya menggantungkan nasib pada selembar ijazah. Ia adalah arena pertempuran di mana hanya mereka yang berani jatuh dan bangkit yang akan bertahan.
Kini, pertanyaannya sederhana, tetapi dalam: Apakah 36 lulusan ini akan menjadi cahaya bagi NTT atau sekadar bintang redup yang lenyap dalam gelap?
Jawabannya ada pada mereka. Pada keberanian, kerja keras, dan tekad mereka untuk menjadi lebih dari sekadar sarjana—melainkan pemimpin perubahan.

Tinggalkan Balasan