STIM Kupang Lahirkan 36 Sarjana Petarung: “Jangan Jadi Benalu, Berani Ambil Risiko!”

Kupang,– Di tengah semaraknya Sidang Senat Terbuka Luar Biasa STIM Kupang, sebuah pesan berani menggema di aula wisuda: Jadilah sarjana petarung, bukan sarjana benalu!

Martini Derang, perwakilan LLDIKTI XV, menyentak kesadaran para wisudawan dengan kalimat tajam yang membuat seisi ruangan terdiam. Ia menegaskan bahwa dunia kerja bukan panggung bagi mereka yang ragu melangkah. “Resiko terbesar bagi seorang sarjana adalah tidak berani mengambil risiko sama sekali!” serunya lantang, menggugah semangat para lulusan.

Martini Derang tidak hanya berbicara, tetapi menggedor mindset. Ia mengibaratkan seorang sarjana seperti pemanjat tebing: “Tak ada pendaki hebat yang tak pernah jatuh. Kalau tak pernah gagal, jangan pernah bermimpi untuk sukses.” Kalimat ini menusuk relung hati, hingga banyak wisudawan dan orang tua yang menitikkan air mata.

Tak berhenti di situ, ia menantang para lulusan untuk mandiri. “Jangan jadi sarjana benalu yang terus menempel pada bantuan orang tua. Jadilah sarjana merdeka yang berani menjemput takdirnya sendiri,” tegasnya, seolah menampar realitas banyak lulusan yang masih bersandar pada kenyamanan keluarga.

Martini Deral juga mengapresiasi STIM Kupang yang selama 44 tahun menjadi pilar pendidikan di NTT, membangun generasi yang siap tempur di dunia nyata. Ia mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di provinsi ini agar tidak kalah bersaing dengan dunia luar.

Asisten I Pemerintah Provinsi NTT, Dra. Erni Usboko, dalam sambutannya atas nama Gubernur, memberikan peringatan keras kepada para lulusan. “Jangan hanya mengejar gaji besar di luar negeri jika kalian tak punya keterampilan!”

Pesannya lugas: gelar sarjana bukan sekadar simbol, tetapi amanah. Ia menantang para lulusan untuk menentukan arah hidup mereka. “Hari ini kita diwisuda. Besok, apa yang akan kita lakukan?” pertanyaan ini menggantung di udara, menuntut jawaban dari setiap individu yang hadir.

Lebih dari sekadar pencapaian akademik, ia menekankan pentingnya jiwa entrepreneurship bagi para lulusan.

“Jangan hanya menjadi pencari kerja, tetapi ciptakan peluang!” Ia juga menegaskan bahwa NTT memiliki kekayaan sumber daya alam yang harus dimanfaatkan dengan inovasi dan kolaborasi, bukan hanya dijual mentah ke pihak luar.

“Kita telah melahirkan 36 generasi baru. Sekarang, apakah mereka akan menyebarkan keharuman atau justru sebaliknya? Apakah mereka akan berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat?” tantangnya.

STIM Kupang Harus Bangkit: “Jangan Kalah Bersaing!”

Di tengah sambutan yang penuh motivasi, muncul juga tantangan besar bagi STIM Kupang sendiri. Jika ingin tetap relevan, STIM harus meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Dunia perguruan tinggi bukan sekadar tempat membagikan ijazah, tetapi harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemikir dan inovator.

“STIM harus memiliki tenaga pengajar berkualitas, agar tidak kalah bersaing dengan perguruan tinggi lain,” tegasnya. Bukan hanya mahasiswa yang dituntut berjuang, tetapi institusi ini juga harus bertarung untuk terus berkembang dan menarik minat dari 22 kabupaten di NTT.

Momentum ini bukan sekadar upacara kelulusan, tetapi sebuah pernyataan sikap: NTT membutuhkan sarjana petarung, bukan sarjana pecundang. Para wisudawan STIM Kupang telah diberi bekal ilmu, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai.

Dunia kerja bukan tempat bagi mereka yang hanya mengandalkan ijazah. Ia adalah arena bagi mereka yang berani jatuh, bangkit, dan terus bertarung hingga kemenangan diraih.

Kini, pertanyaan besarnya adalah: Apakah 36 lulusan ini akan menjadi cahaya yang menerangi atau sekadar bintang redup yang tenggelam dalam kegelapan? Hanya waktu yang akan menjawab.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *