PLN dan Dekranasda Latih Ratusan UMKM NTT

Kupang — Di tengah gempuran produk massal dan dominasi platform digital skala nasional, 150 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur mendapat suntikan pengetahuan dari PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT. Pelatihan yang digelar Rabu, 10 Desember 2025, ini diklaim sebagai upaya serius mendorong UMKM lokal naik kelas—bukan sekadar bertahan.

Program yang dirangkai dalam peringatan Hari Ibu dan Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi NTT tersebut membawa misi besar: menggeser pola UMKM dari produksi tradisional menuju usaha yang adaptif, legal, dan melek digital. Namun, pertanyaan krusialnya: sejauh mana pelatihan semacam ini mampu menjawab tantangan struktural UMKM NTT?

Materi pelatihan mencakup peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran digital, hingga aspek legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), dan sertifikasi halal. Isu pengemasan produk juga menjadi sorotan—sebuah kelemahan klasik UMKM daerah yang kerap membuat produk lokal kalah bersaing meski kualitas bahan unggul.

PLN dan Dekranasda juga mendorong pelaku UMKM agar tidak sekadar menjual produk, tetapi menjual identitas. Wastra, kriya, dan kuliner khas NTT diarahkan untuk dikembangkan dengan pendekatan inovatif agar relevan dengan selera pasar nasional bahkan internasional. Tenun, misalnya, tak lagi berhenti sebagai kain adat, tetapi didorong menjadi produk fashion bernilai tambah.

Ketua Dekranasda NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menilai kolaborasi ini sebagai bentuk pembinaan yang lebih terstruktur dibanding program-program sporadis sebelumnya. Menurut dia, tantangan UMKM bukan hanya pada modal, tetapi pada standar kualitas dan konsistensi. “Produk lokal harus memenuhi standar jika ingin menembus pasar yang lebih luas. Pembinaan seperti ini menjadi kunci,” ujarnya.

General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, menegaskan keterlibatan PLN tidak berhenti pada penyediaan listrik semata. Ia menyebut pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. “Kami ingin UMKM tidak hanya bisa produksi, tapi juga mampu memasarkan, berinovasi, dan membaca peluang pasar digital,” kata Eko. Ia menambahkan, kreativitas berbasis budaya lokal menjadi nilai jual utama NTT yang belum digarap maksimal.

Dari sisi peserta, pelatihan ini dinilai memberi perspektif baru. Mercy Kabnani, salah satu pelaku UMKM, mengakui selama ini fokusnya hanya pada produksi. “Kami sering tidak tahu cara menjual dengan benar, apalagi secara digital. Pelatihan ini membuat saya sadar bahwa kualitas produk harus diiringi strategi pemasaran,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan ke depan tak kecil. Pelatihan satu hari tak otomatis mengubah ekosistem UMKM yang masih bergulat dengan akses pasar, logistik mahal, dan keterbatasan pendampingan berkelanjutan. Tanpa tindak lanjut yang konsisten, pelatihan berisiko menjadi agenda seremonial tahunan.

Namun, jika kolaborasi ini diikuti dengan pendampingan jangka panjang dan akses nyata ke pasar, langkah PLN dan Dekranasda bisa menjadi model pemberdayaan UMKM daerah yang lebih substansial. Di tengah upaya pemerintah mendorong ekonomi berbasis kerakyatan, UMKM NTT kini berada di persimpangan: tetap menjadi pemain lokal, atau benar-benar naik kelas dan bersaing di panggung yang lebih luas.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *