Wali Kota Kupang Dorong Kolaborasi Iman dan Budaya, Bangkitkan Ekonomi Lokal

Kupang, Nusa Tenggara Timur – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memberikan apresiasi tinggi terhadap pagelaran seni dan budaya yang digelar Jemaat GMIT Maranatha Oebufu pada Jumat (30/5). Acara yang bertajuk “Harmoni Iman dan Budaya” ini merupakan bagian dari Bulan Budaya dan Bahasa GMIT, menampilkan kekayaan budaya lintas etnis di Kota Kupang dalam sebuah perpaduan yang harmonis.

Lebih dari sekadar pergelaran seni, acara ini menjadi bukti nyata sinergi antara nilai-nilai iman Kristen dan kearifan lokal. Tarian etnis Sumba yang menyambut kedatangan Wali Kota, penampilan memukau Vocal Group Pelita Kasih dan Paduan Suara Aleluia Choir (di mana Wali Kota sendiri pernah menjadi penasehat), menunjukkan keberagaman dan persatuan yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan pentingnya kegiatan ini untuk memperkuat kohesi sosial. Ia menyebut keberagaman etnis di Gereja Maranatha – meliputi Rote, Sabu, Sumba, Timor, dan Alor – sebagai cerminan Kota Kupang sebagai “rumah bersama” yang inklusif. Lebih lanjut, ia mengagungkan peran Gereja Maranatha, tidak hanya dalam pelayanan rohani, tetapi juga dalam kontribusi nyata di bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan, termasuk kontribusi ASN Pemkot Kupang yang berasal dari jemaat tersebut.

Wali Kota mendorong agar acara serupa menjadi agenda rutin, tidak hanya untuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai platform pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menegaskan pentingnya keterlibatan UMKM dalam setiap kegiatan budaya untuk meningkatkan daya saing ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Pemkot Kupang untuk menggerakkan ekonomi lokal berbasis UMKM. Sebagai wujud dukungan, Wali Kota bahkan membeli produk lokal di stan UMKM yang hadir dalam acara tersebut.

Pesan Wali Kota sangat kuat: iman dan budaya harus berjalan beriringan. Iman tanpa budaya akan kehilangan akar, dan budaya tanpa iman akan kehilangan arah. Pemerintah Kota Kupang, menurut Wali Kota, siap mendukung penuh kegiatan-kegiatan gerejawi yang berdampak luas, termasuk dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Komitmen ini diperkuat dengan penampilan tarian Kebalai Rote bersama Wali Kota, para pendeta, dan jemaat, sebagai simbol kolaborasi dan kebersamaan.

Pdt. Yusuf Nakmofa, M.Th., Ketua Majelis Jemaat GMIT Maranatha Oebufu, menjelaskan bahwa Bulan Budaya dan Bahasa GMIT bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam nilai-nilai Kristiani. Ia mencontohkan tradisi henge’do (cium hidung) dalam budaya Sabu yang mengandung nilai pemulihan dan perdamaian. Gereja Maranatha pun siap berkolaborasi dengan Pemkot Kupang, termasuk dalam penyambutan tamu daerah dan nasional melalui pertunjukan seni binaan gereja.

Pagelaran seni dan budaya ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah pernyataan yang kuat tentang kebersamaan, pelestarian budaya, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Kota Kupang. Kolaborasi antara pemerintah dan gereja menjadi kunci keberhasilannya.

Tips: Gunakan kata kerja yang kuat dan spesifik untuk meningkatkan daya tarik berita. Contoh: “menunjukkan,” “menekankan,” “mengagungkan,” “memperkuat,” dan lain sebagainya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *