Kupang, -Di balik riuh tawa anak-anak usia dini, ada suara-suara lirih dari para pendidik yang selama ini menabur harapan di taman kecil bernama PAUD—tempat di mana masa depan mulai dibentuk dari tangan-tangan sabar dan hati penuh pengabdian.
Rabu (11/6), ruang kerja Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menjadi saksi pertemuan yang sarat makna. Audiensi Pengurus Daerah Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Kupang bukan sekadar ajang formalitas, melainkan ruang dialog tentang masa depan pendidikan anak usia dini dan para pejuangnya yang selama ini bekerja di balik layar.
Ketua HIMPAUDI Kota Kupang, Jefry Liebertus, memimpin rombongan yang terdiri dari berbagai unsur pengurus, termasuk perwakilan provinsi dan kecamatan. Dalam pemaparannya, Jefry menegaskan kembali peran HIMPAUDI sebagai organisasi profesi yang mengusung misi besar: meningkatkan mutu pendidikan usia dini dan memperjuangkan kesejahteraan para tenaga pendidiknya, khususnya mereka yang berada di sektor nonformal.
Namun, di tengah semangat pengabdian itu, terselip kegelisahan yang tak bisa terus disimpan. Para guru PAUD nonformal kini harus berjalan tanpa bekal insentif yang selama ini menjadi penopang semangat: uang transportasi senilai Rp550.000 per bulan yang tak lagi mereka terima. Padahal, di ruang-ruang belajar sederhana itu, mereka tetap hadir setiap pagi, menyambut anak-anak dengan senyum, meski dompet kian menipis dan pengakuan belum sepenuhnya hadir.
Jefry menyinggung keberadaan anggaran pendidikan PAUD sebesar Rp10 miliar yang belum terealisasi, sebagaimana disebut dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Ia berharap Wali Kota Kupang tak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pembuka jalan bagi keadilan yang selama ini belum sepenuhnya dirasakan oleh para pendidik PAUD.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dengan sikap terbuka menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru PAUD. Dalam narasinya, ia menyebut mereka sebagai “pahlawan pendidikan yang membentuk fondasi masa depan bangsa.”
Namun, realitas fiskal menjadi tantangan yang tak bisa dihindari. Dengan terbatasnya ruang fiskal akibat APBD 2024 yang telah dikunci sebelum ia menjabat, Wali Kota menyatakan belum mampu memenuhi aspirasi terkait insentif. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. “Efisiensi bukan akhir dari perjuangan, melainkan ruang untuk berinovasi lebih bijak,” ungkapnya.
Dalam suasana penuh empati itu, Ketua HIMPAUDI Kecamatan Oebobo, Orance Beis, mengundang langsung Wali Kota untuk hadir dalam momen sakral pelepasan siswa PAUD se-Kecamatan Oebobo yang akan berlangsung pada Jumat di Aula El Tari. Sebuah ajakan yang disambut hangat oleh Wali Kota sebagai bentuk nyata kedekatan antara pemerintah dan masyarakat pendidik.
Pertemuan itu pun ditutup dengan semangat kolaboratif. Meski badai tantangan belum reda, benih harapan telah ditebar. HIMPAUDI dan Pemerintah Kota Kupang sepakat untuk terus merawat kerja sama, demi taman-taman kecil yang kelak akan tumbuh menjadi hutan pengetahuan yang menaungi masa depan.

Tinggalkan Balasan