Kupang,— Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gema Bangsa Nusa Tenggara Timur (NTT), Jonathan Nubatonis, menyatakan dukungan penuh terhadap program kerja Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2024–2029. Dalam pernyataan kepada media, Nubatonis menegaskan harapan besar bahwa dalam lima tahun mendatang, NTT dapat naik kelas dalam peta kemiskinan nasional — dari provinsi termiskin urutan ketiga menjadi peringkat keempat.
“Jika dalam lima tahun ke depan NTT berhasil naik satu tingkat dalam daftar provinsi termiskin, itu adalah pencapaian yang luar biasa dan layak kita apresiasi. Itu bukan hanya angka, tapi bukti bahwa ada perubahan nyata di akar persoalan,” ujar Nubatonis, Sabtu (31/05/2025).
Menurutnya, capaian semacam itu tidak datang dengan sendirinya. Harus ada kerja sistematis, terukur, dan melibatkan semua elemen masyarakat. Karena itu, Gema Bangsa DPW NTT telah menjadwalkan pertemuan dengan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk memberikan masukan strategis, khususnya dalam hal pendekatan baru dalam membedah kemiskinan struktural di wilayah ini.
Lima Langkah Kunci Membedah Kemiskinan
DPW Gema Bangsa NTT mendorong terobosan kebijakan dengan fokus pada lima strategi utama:
1. Revolusi Infrastruktur Dasar
Akses jalan, air bersih, listrik, dan jaringan telekomunikasi adalah fondasi utama penggerak ekonomi lokal.
2. Kebijakan Berbasis Data dan Bukti
Kemiskinan harus didekati dengan data yang akurat, bukan asumsi. Validasi dan digitalisasi data kemiskinan adalah langkah pertama menuju efektivitas intervensi.
3. Penguatan Ekonomi Rakyat dan UMKM
Pemerintah perlu hadir memberi dukungan nyata kepada petani, nelayan, pengrajin, dan pelaku UMKM yang selama ini menopang ekonomi di desa-desa.
4. Peningkatan Mutu SDM
Percepatan penanganan stunting, gizi buruk, serta peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas jika NTT ingin lepas dari kemiskinan antar-generasi.
5. Kolaborasi Multi-Pihak dan Tata Kelola Transparan
Tidak ada kemajuan tanpa sinergi. Pemerintah daerah, partai politik, tokoh agama, dunia usaha, dan masyarakat sipil harus bekerja dalam satu orkestrasi pembangunan yang bersih dan terbuka.
Mitra Kritis, Bukan Sekadar Pendukung
Jonathan Nubatonis menegaskan bahwa peran Gema Bangsa bukan hanya sebagai pendukung politik, tetapi sebagai mitra kritis yang siap mengawal arah kebijakan. Dukungan yang diberikan bersifat konstruktif, dengan keberanian untuk menyampaikan kritik bila arah pembangunan melenceng dari tujuan keadilan sosial.
“Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat. Kami percaya gubernur dan wakil gubernur kita punya potensi besar untuk mencetak sejarah. Tapi potensi harus disertai strategi yang tepat dan kemauan untuk mendengar,” kata Nubatonis.
Dari Perubahan Statistik ke Perubahan Hidup
Gema Bangsa memandang bahwa naiknya peringkat kemiskinan hanyalah indikator awal. Yang lebih penting adalah perubahan nyata dalam kualitas hidup masyarakat: daya beli meningkat, angka putus sekolah menurun, akses layanan dasar merata, dan mimpi anak-anak NTT tidak lagi dikerdilkan oleh kemiskinan.
“Naik dari peringkat ketiga ke keempat mungkin terdengar kecil di atas kertas, tapi bagi kami itu adalah sinyal bahwa NTT sedang bergerak maju. Dan bila kita terus bekerja bersama, suatu hari nanti kita tidak lagi dikenal sebagai provinsi termiskin, tetapi sebagai provinsi dengan lompatan perubahan terbesar,” tutup Jonathan Nubatonis.

Tinggalkan Balasan