“Waduk Maut Kupang: Surga Buaya, Neraka Warga”!

Kupang,– Kehebohan melanda Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bukan karena pesta rakyat, melainkan teror puluhan buaya raksasa yang berkeliaran bebas di sekitar waduk Kupang Timur. Laporan warga yang viral di media sosial, bukan sekadar isu murahan. Ini adalah gambaran nyata kegagalan negara dalam melindungi warganya dari ancaman nyata di depan mata.

Sebuah unggahan di Facebook oleh akun Mondhy Jr pada Minggu, 9 Februari 2025, membongkar fakta mengerikan ini. Ia memperingatkan warga sekitar Naibonat dan Manusak akan keberadaan buaya-buaya besar, termasuk induk buaya yang telah melahirkan lebih dari 20 anak. Bayangkan, puluhan predator ganas berkeliaran di dekat pemukiman! Ini bukan film horor, ini kenyataan pahit yang harus dihadapi warga.

Tanggapan resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT terkesan lamban dan setengah hati. Kepala Bidang Teknis Konservasi Sumber Daya Alam, Dadang Suryana, hanya berjanji akan memverifikasi laporan tersebut. Verifikasi? Sementara warga hidup dalam ketakutan setiap saat! Apakah menunggu korban jiwa dulu baru bertindak? Apakah perlu ada anak-anak yang menjadi santapan buaya sebelum pemerintah bergerak cepat?

Banjir yang melanda NTT beberapa hari terakhir diduga menjadi penyebab buaya-buaya tersebut keluar dari habitatnya. Bencana alam memang tak bisa dihindari, tetapi lemahnya pengawasan dan antisipasi dari pihak berwenang, justru memperparah keadaan. Ini bukan hanya soal konservasi, ini soal keselamatan jiwa manusia!

“Semoga kejadian ini jadi pelajaran berharga bagi pemerintah untuk lebih peduli pada rakyat.”komentar salah satu akun facebook.

Keengganan untuk bertindak cepat dan tegas menunjukkan sikap pemerintah yang acuh tak acuh terhadap keselamatan rakyatnya. Pernyataan Dadang Suryana yang menyoroti kemungkinan beredarnya foto atau video lama, terdengar seperti upaya untuk mengalihkan perhatian dari tanggung jawab mereka. Bukankah seharusnya prioritas utama adalah memastikan keselamatan warga?

Warga Kupang kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Anak-anak tak bisa bermain dengan bebas di dekat sungai. Petani pun was-was saat menggarap lahan pertanian mereka. Siapa yang bertanggung jawab atas rasa takut dan ketidaknyamanan ini?

Kejadian ini bukan hanya sekadar masalah lingkungan, tetapi juga cerminan nyata dari tata kelola pemerintahan yang tidak peduli dengan rakyatnya.Kegagalan melindungi warganya dari ancaman nyata, adalah sebuah kegagalan negara yang tak bisa diabaikan begitu saja. Tindakan nyata, bukan sekadar janji-janji kosong, yang dibutuhkan saat ini. Sebelum terlambat, sebelum ada korban jiwa yang harus ditangisi.(arnold)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *