Jeny Banunaek, Ibu Tiga Anak dari TTS yang Hidup dari Jualan Jagung

Oesao,— Di pinggir jalur setelah Pasar Oesao, tempat kendaraan melaju tanpa henti, seorang perempuan muda berdiri setiap hari dengan keteguhan yang sama: bekerja demi keluarga. Ia adalah Jeny Banunaek (28), warga asal Timor Tengah Selatan (TTS), yang menggantungkan hidup dari berjualan jagung manis dan jagung pulut.

Saat ditemui media ini pada Rabu, 31 Desember 2025, Jeny mengungkapkan bahwa usaha yang ia jalani bersama suaminya mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per hari, bergantung pada jumlah pembeli.

“Kalau ramai, hasilnya bisa mencukupi kebutuhan rumah,” ujarnya dengan suara tenang.

Usaha kecil ini dijalankan dengan bantuan dua orang tenaga laki-laki yang membantu proses penjualan. Meski demikian, pengelolaan usaha—mulai dari pengadaan jagung hingga perhitungan hasil—tetap berada di tangan Jeny dan suaminya.

Membeli Langsung dari Ladang Petani

Ketika ditanya mengenai asal jagung yang dijual, Jeny mengaku bahwa ia memborong langsung dari ladang pertanian di sekitar wilayah Oesao. Cara ini dipilih untuk menjaga kualitas jagung sekaligus membantu petani lokal agar hasil panen mereka terserap.

“Kami ambil langsung dari kebun supaya petani juga terbantu,” katanya.

Model usaha sederhana ini menciptakan hubungan ekonomi saling menguatkan antara petani dan pedagang kecil di wilayah tersebut.

Perempuan Pekerja, Ibu Tiga Anak
Perempuan kelahiran Juni 1993 ini adalah ibu dari tiga orang anak.

Di tengah perannya sebagai ibu rumah tangga, Jeny memilih tetap bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Ia dan suaminya memiliki profesi yang sama, mengandalkan sektor informal sebagai sumber penghasilan utama.

“Kami sama-sama kerja. Yang penting anak-anak bisa makan dan sekolah,” ujarnya.

Tanpa penghasilan tetap dan tanpa jaminan, Jeny tetap konsisten menjalani rutinitas hariannya—datang pagi, pulang ketika dagangan habis.

Potret Ketangguhan Perempuan Nusa Tenggara Timur

Kisah Jeny Banunaek adalah potret nyata ketangguhan perempuan Indonesia Timur. Ia bekerja tanpa sorotan, bertahan tanpa keluhan, dan membangun ekonomi keluarganya dari usaha kecil yang sering luput dari perhatian publik.

Di jalur setelah Pasar Oesao, di antara asap jagung rebus dan debu kendaraan yang melintas, Jeny berdiri sebagai simbol bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketekunan masih menjadi fondasi utama kehidupan banyak keluarga di Indonesia.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *