Efek Jokowi Masih Dahsyat! Survei LPI: 70% Publik Nilai Kedekatan dengan PSI Dongkrak Citra Partai, “Transfer Persepsi” Terjadi Masif

Jakarta,– Bayangan politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terbukti masih menjadi aset elektoral paling berharga di Indonesia. Hasil survei terbaru dari Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengungkap fakta mengejutkan: figur Jokowi tidak hanya populer secara pribadi, tetapi telah berhasil melakukan “transfer persepsi” yang kuat kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Data ini menegaskan bahwa dalam lanskap politik pasca-pemilu 2024, kekuatan figur masih jauh lebih dominan dibandingkan ideologi atau program partai semata.

Fenomena “Satu Identitas”

Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI, Fernando Emas, menyebut temuan ini sebagai cerminan realitas politik Indonesia yang masih sangat kental dengan budaya figuratif. Menurutnya, strategi PSI dalam mendekatkan diri dengan Jokowi bukan sekadar taktik kampanye, melainkan upaya membangun identitas baru.

“Terhadap PSI, terjadi perpindahan persepsi dari figur kepada partai. Di mata publik, PSI dan Jokowi kini seolah menjadi satu kesatuan identitas politik yang sulit dipisahkan,” ujar Fernando dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).

Fernando menekankan bahwa hal ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi komunikasi politik yang konsisten, termasuk sejak bergabungnya para loyalis Jokowi hingga terpilihnya mereka dalam struktur kepemimpinan PSI.

Survei bertajuk “Pengaruh Sosok Jokowi terhadap Citra PSI dalam Pandangan Masyarakat” ini melibatkan 1.922 responden di 32 provinsi pada 10–17 Juni 2026. Dengan margin of error ±2,54% dan tingkat kepercayaan 95%, datanya menunjukkan tren yang signifikan:

1. Dongkrakan Citra Positif: Sebanyak 70,2% responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi mampu meningkatkan citra positif partai. Rinciannya, 37,7% menyatakan meningkat, 26,4% cukup meningkat, dan 6,1% sangat meningkat.
2. Pengaruh Terhadap Dukungan: Lebih tinggi lagi, sebanyak 77,8% responden meyakini bahwa Jokowi memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat dukungan masyarakat kepada PSI. Ini membuktikan daya tarik elektoral Jokowi tetap solid meski ia tidak lagi menjabat presiden.
3. Citra “Merakyat”: Aspek karakter menjadi kunci. Sebanyak 64,9% responden menilai PSI memiliki citra “merakyat” seperti Jokowi, sementara 62,8% lainnya merasa gaya kepemimpinan PSI mencerminkan kesederhanaan dan pendekatan unik ala mantan Wali Kota Solo tersebut.

Hal ini memberikan sinyal kuat bagi peta koalisi dan oposisi di Indonesia. Jika PSI berhasil mengkonsolidasi basis massa Jokowi melalui transfer persepsi ini, partai tersebut berpotensi menjadi king maker atau pemain kunci dalam dinamika parlemen maupun pemilihan kepala daerah mendatang.

Publik tampaknya tidak lagi melihat PSI sebagai entitas terpisah, melainkan sebagai perpanjangan tangan dari nilai-nilai dan gaya politik yang dibawa oleh Jokowi selama dua periode kepemimpinannya. Gaya komunikasi yang santai, blak-blakan, dan dekat dengan rakyat kecil (wong cilik) yang melekat pada Jokowi, kini secara efektif “diwariskan” ke dalam DNA partai PSI.

Survei ini dilakukan secara daring dengan metode multistage random sampling dan stratified quota sampling untuk memastikan representasi populasi yang akurat across 32 provinsi di Indonesia.

Dengan ini, pertanyaan besar yang muncul apakah Jokowi masih berpengaruh, tetapi sejauh mana partai-partai lain mampu menandingi strategi “politik figur” yang telah dikuasai dengan sangat baik oleh PSI.(Sumber: Antara / Olahan Redaksi)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *