Kupang, – Sebuah peristiwa dramatis mengguncang dunia maya di mana terlihat mobil ambulans yang mengangkut dua ibu hamil terjebak banjir di Sungai Nefopal, Desa Oelatimo, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, pada Jumat (07/02/2025) sekitar pukul 09.00 WITA. Video kejadian ini viral dan memicu reaksi publik.
Ambulans yang berangkat dari Puskesmas Sulamu menuju RSU Leona Kupang tak punya pilihan lain selain menerobos derasnya aliran sungai. Tidak ada jembatan! Tidak ada jalur alternatif! Pilihannya cuma satu: mempertaruhkan nyawa ibu dan bayi yang ada di dalamnya.
Namun, baru lima meter masuk ke dalam sungai, ambulans langsung terjebak. Mesin mati, air mulai menggenangi kendaraan, dan di dalamnya dua ibu hamil terjebak dalam ketidakpastian. Panik? Tentu! Tapi mereka tak punya waktu untuk itu.
Sejumlah pria yang kebetulan berada di lokasi dengan cepat turun tangan. Mereka menerobos banjir, berjuang melawan arus deras, dan bahu-membahu mendorong ambulans ke tepi sungai. Tanpa mereka, entah apa yang akan terjadi pada ibu dan bayi dalam kandungan mereka.
“Kondisinya kritis, ambulans mogok, tapi berkat bantuan warga, akhirnya bisa dievakuasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Yoel Midel Laitabun.
Setelah berhasil diselamatkan, para pasien langsung di pindahkan ke mobil lain agar bisa melanjutkan perjalanan ke RSU Leona. Sementara ambulans yang mogok akhirnya bisa dinyalakan kembali setelah dilakukan penggantian oli mesin.
Video berdurasi 1 menit 30 detik yang memperlihatkan kejadian ini langsung membanjiri media sosial. Berbagai komentar memenuhi platform baik Facebook maupun TikTok.
“Sudah Tahun 2025 masih ada ambulans yang harus menerobos banjir karena tidak ada jembatan!”
“Kalau warga tidak ada di situ, bagaimana nasib ibu hamil itu? Semoga ini jadi pelajaran berharga.
“Pemerintah daerah jangan diam! Infrastruktur jalan di NTT itu darurat, jangan tunggu korban jiwa baru bertindak!”
Kejadian ini bukan yang pertama dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Jalur Kupang – Sulamu sudah lama dikenal sebagai jalur berbahaya dengan infrastruktur yang minim. Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat sudah mengeluhkan buruknya akses jalan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemprov NTT ataupun Kementerian PUPR terkait solusi jangka panjang.
Peristiwa ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah. Jalan dan jembatan bukan sekadar infrastruktur, tapi soal nyawa! Jika kejadian seperti ini terus berulang, maka di manakah tanggungjawab moral pemerintah?
Semoga dengan kejadian ini membuka mata hati para pemimpin baik itu Gubernur maupun Bupati yang telah diberi kepercayaan oleh masyarakat. Kiranya ada perubahan nyata dan bukan hanya janji-janji kosong seperti sebelumnya.(**)

Tinggalkan Balasan