“Pulang ke Desa Saenam: Menemukan Kembali Akar yang Terlupakan”

Saenam,-Udara pagi di Desa Saenam masih sesegar yang kuingat. Angin bertiup pelan, menyapu hamparan tanah yang dulu menjadi saksi langkah-langkah kecilku. Namun, di balik rindangnya pepohonan dan keramahan wajah-wajah lama, ada sesuatu yang mengusik hati—desa ini tak lagi seperti dulu.

Jalanan yang dulu kukenal kini mulai retak, seakan menjerit meminta perhatian. Rumah-rumah tua berdiri kokoh tetapi lelah, seperti menyimpan cerita yang tak lagi didengar. Kemana janji-janji pembangunan? Dimana perhatian mereka yang katanya peduli? Desa ini masih berdiri, tetapi apakah ia benar-benar hidup?

Aku berjalan melewati ladang-ladang yang dulu hijau subur, kini mulai meranggas. Generasi tua masih bertahan, menggenggam harapan di tangan kasar mereka. Sementara anak-anak muda? Banyak yang telah pergi, merantau ke kota demi sesuap harapan yang lebih pasti. Desa Saenam, seperti banyak desa lain, kehilangan darah mudanya—bukan karena kemalasan, tapi karena ketidakpastian.

Seorang ibu tua menyapaku, matanya berbinar namun menyimpan kelelahan. “Beta pung anak-anak sonde ada lai di sini,” katanya lirih. Pergi ke kota, mengejar sesuatu yang lebih baik, meninggalkan tanah yang dulu memberi mereka hidup. Ironis, bukan? Negeri ini dibangun dari keringat para petani dan buruh desa, tetapi mereka justru yang paling sering dilupakan.

Pemerintah? Ah, mereka pandai berkata-kata. Pembangunan desa sering dijadikan janji manis saat musim pemilu, tetapi setelah itu? Lenyap seperti kabut pagi yang tersapu matahari. Bantuan turun, tapi entah kemana arahnya. Infrastruktur? Masih setengah hati. Lalu, apakah kita hanya akan diam dan menunggu?

Desa Saenam tidak butuh belas kasihan. Yang dibutuhkan adalah kesempatan, akses, dan keberpihakan yang nyata. Generasi mudanya harus kembali, bukan sekadar sebagai perantau yang datang untuk berlibur, tetapi sebagai pembangun yang membawa perubahan.

Pulang ke Desa Saenam bukan sekadar perjalanan nostalgia. Ini adalah panggilan untuk bertindak. Jika desa ini ingin hidup, maka kitalah yang harus menghidupkannya. Jangan biarkan tanah leluhur menjadi sekadar cerita lama yang terkubur dalam ingatan. Jika mereka yang berkuasa terus menutup mata, maka kita yang harus membuka jalan.

Desa Saenam masih punya harapan, tapi harapan tanpa aksi hanyalah ilusi. Kini saatnya bertanya: apakah kita hanya akan menjadi saksi kehancuran, atau kita yang akan menulis ulang masa depannya?( Arnold)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *