Kupang, – Untuk pertama kalinya sejak 1993, kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Kera, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kedatangan rombongan besar wisatawan mancanegara. Sebanyak 150 pengunjung dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Denmark, Meksiko, dan sejumlah negara Eropa, menginjakkan kaki di pulau kecil nan eksotis tersebut. Kunjungan ini menjadi tonggak bersejarah bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.

Momentum ini sekaligus diperingati dengan pelepasan 101 ekor penyu di bibir pantai Pulau Kera, sebagai bagian dari rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Langkah ini menjadi simbol kolaborasi antara pelestarian alam dan pariwisata berkelanjutan yang kini mulai menampakkan sinarnya di wilayah timur Indonesia.

“Ini momen yang sangat bersejarah. Sejak kawasan ini ditetapkan pada 1993, baru kali ini kami menerima kunjungan wisatawan asing dalam jumlah besar,” ungkap Yoseph Babo Rangga, Kepala Bidang Teknis BBKSDA NTT, saat ditemui di lokasi.
Kegiatan para wisatawan tak hanya sebatas menikmati pesona alam. Mereka juga menyelam di sekitar spot laut yang sempat rusak akibat badai Seroja beberapa tahun silam. Meski kondisi terumbu karang belum sepenuhnya pulih, mereka tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Sebanyak 100 wisatawan melakukan snorkeling untuk melihat langsung potensi bawah laut Pulau Kera.
“Kami akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memperbaiki ekosistem laut yang terdampak.

Komitmen ini penting agar keindahan yang ada dapat dinikmati generasi mendatang,” tambah Yoseph.
Selain kegiatan wisata, rombongan turis juga menggelar bakti sosial. Mereka membagikan pakaian layak pakai dan buku untuk anak-anak sekolah di Pulau Kera. Aksi ini disambut hangat oleh warga yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Ketua RW setempat, Hamdan Sabah, menyampaikan apresiasi atas kunjungan wisatawan dan perhatian pemerintah, meski ia tak menampik kegelisahan masyarakat soal isu relokasi.
“Kami bersyukur bisa menikmati manfaat dari kunjungan ini, termasuk peningkatan ekonomi masyarakat. Namun, kami juga berada dalam dilema karena belum ada kejelasan soal rencana relokasi. Harapan kami, bila penataan ruang dilakukan, kami tidak digusur. Sekitar 500 jiwa bergantung hidup di sini,” ujar Hamdan, mewakili 106 Kepala Keluarga yang tinggal di Pulau Kera.
Warga berharap agar potensi wisata Pulau Kera tidak hanya menjadi magnet pariwisata, tetapi juga memberi dampak ekonomi langsung tanpa mengorbankan hak dan ruang hidup mereka. Pemerintah daerah pun diharapkan bersikap tegas namun adil dalam menetapkan kebijakan yang menyangkut relokasi dan pelestarian lingkungan.
Sementara itu, salah satu wisatawan asal Eropa, Mrs. Diana, mengungkapkan kekagumannya terhadap panorama Pulau Kera.
“This is one of the most beautiful places I’ve ever seen. The people are kind, and nature here is pure and stunning,” katanya singkat.
Dengan potensi alam yang masih alami, ditambah perhatian dunia terhadap isu lingkungan, Pulau Kera kini berada di persimpangan penting: antara menjadi destinasi wisata berkelas dunia, atau kembali tenggelam karena minimnya dukungan dan arah kebijakan yang tak berpihak. Momentum ini adalah alarm sekaligus peluang—jika dikelola bijak, Pulau Kera dapat menjadi model harmoni antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Tinggalkan Balasan