Makasar, – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan terus memberikan dampak positif bagi masyarakat dari berbagai penjuru Tanah Air. Salah satunya datang dari Desa Pabentengan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Nur Hikma (21), seorang ibu rumah tangga aktif, menjadi saksi nyata manfaat program ini dalam kehidupan sehari-harinya.
Dalam wawancara eksklusif bersama tim redaksi, Nur Hikma mengisahkan pengalamannya sebagai peserta JKN. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap kemudahan akses layanan kesehatan yang selama ini ia rasakan. “Selama saya pakai BPJS Kesehatan, tidak ada kendala besar. Pelayanannya baik,” ungkapnya.
Baginya, kehadiran JKN memberikan ketenangan yang signifikan, terutama saat menghadapi kondisi kesehatan yang tidak terduga. Tanpa perlu khawatir akan beban biaya, Nur Hikma merasa jauh lebih tenang dalam menjaga kesehatan dirinya dan keluarga. “Saya sangat terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan. Jadi lebih tenang,” ujarnya.
Meski demikian, Nur Hikma tak menutup mata terhadap beberapa hal yang masih perlu mendapat perhatian. Ia menilai bahwa kecepatan layanan di fasilitas kesehatan masih dapat ditingkatkan. “Tidak cepat-cepat banget sih, tapi cukup mengefisienkan waktu,” tuturnya.
Salah satu catatan penting yang ia sampaikan adalah mengenai sikap sebagian tenaga medis terhadap pasien JKN. Meski mayoritas bersikap ramah dan profesional, ia mendengar adanya perlakuan berbeda yang terkesan diskriminatif terhadap pengguna BPJS Kesehatan. “Sebagian besar baik, tapi jujur, infonya ada yang memperlakukan pasien BPJS berbeda. Kayak diskriminasi gitu,” katanya jujur.
Secara keseluruhan, Nur Hikma memberikan nilai kepuasan sebesar 89 persen terhadap layanan yang telah ia terima. Skor ini mencerminkan rasa puas yang cukup tinggi, dengan catatan perbaikan di beberapa aspek.
Tak hanya memberikan evaluasi, Nur Hikma juga menyampaikan saran konstruktif untuk perbaikan layanan ke depan. Ia menekankan pentingnya sosialisasi hak dan kewajiban peserta secara lebih luas dan intensif, terutama di wilayah pedesaan. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum memahami prosedur rujukan, penggunaan aplikasi Mobile JKN, maupun manfaat antrean online.
“BPJS Kesehatan harus lebih aktif sosialisasi ke peserta. Banyak orang yang belum tahu hak dan kewajibannya,” jelasnya lugas.
Di sisi lain, Nur Hikma memberikan apresiasi terhadap kehadiran Aplikasi Mobile JKN sebagai bentuk digitalisasi layanan. Namun ia berharap edukasi penggunaannya dapat lebih ditingkatkan agar masyarakat desa juga bisa merasakan manfaatnya secara optimal. “Saya dengar ada Aplikasi Mobile JKN, tapi belum banyak yang tahu cara pakainya di kampung,” tambahnya.
Cerita Nur Hikma mencerminkan bagaimana program JKN telah menjangkau hingga ke lapisan masyarakat paling bawah, sekaligus menunjukkan tantangan yang perlu terus disempurnakan. Masukan dari peserta seperti Nur Hikma menjadi cermin penting bagi BPJS Kesehatan dalam upaya menjaga mutu layanan, memperkuat inklusivitas, dan memastikan seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang adil dan profesional.
Dengan semangat perbaikan berkelanjutan dan partisipasi aktif dari masyarakat, JKN diharapkan terus berkembang menjadi sistem jaminan kesehatan yang lebih responsif, merata, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(***).

Tinggalkan Balasan