Kupang, — Di balik geliat pembangunan kota, terselip realita getir: ribuan anak-anak di Kota Kupang tumbuh tanpa kepastian gizi, dan tak sedikit nyawa terancam hanya karena berkas tak lengkap di meja rumah sakit.
Hari ini, di Puskesmas Sikumana, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memilih untuk tidak menutup mata. Ia meluncurkan tiga program strategis—yang bukan sekadar seremoni, tapi respons atas kegagalan sistem yang terlalu lama dibiarkan.
Nyawa atau Formulir?
“Pasien datang stroke, sekarat, tapi ditolak karena tak punya KTP. Ini tidak bisa lagi dibiarkan,” kata Wali Kota. Ia menandatangani peluncuran Dana Pengamanan Kegawatdaruratan—dana yang secara terang-terangan mengakui bahwa sistem administrasi kita selama ini lebih cepat mematikan daripada menyelamatkan.
Dalam sistem kesehatan yang ideal, tidak boleh ada warga yang harus berjuang antara hidup dan mati hanya karena tidak punya BPJS. Tapi kenyataannya, itu terjadi. Terlalu sering. Dana ini—Rp3 miliar di tahun pertama—akan dikelola RSUD S.K. Lerik agar tidak ada lagi pasien yang meninggal dalam antrean birokrasi.
Laporan dari aplikasi SiGizi Kesega 2024 dan 2025 menyebutkan angka-angka yang seharusnya memekakkan telinga:
3.475 balita mengalami stunting.
2.002 balita masuk kategori wasting (gizi buruk dan gizi kurang).
6.192 balita berat badannya tidak naik.
322 ibu hamil mengalami KEK.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah nama-nama yang tidak pernah masuk media, wajah-wajah kecil yang merintih di rumah-rumah sempit kota. Program Makanan Tambahan (PMT) yang diluncurkan hari ini adalah upaya intervensi yang terlambat tapi sangat mendesak.
“Kita tidak bisa lagi menunggu rapat demi rapat,” tegas dr. Christian. “Tiap hari menunda, ada anak yang tidak makan.”
Digitalisasi untuk Hidup, Bukan Gaya
Program ketiga—SIRANAP—bisa terlihat seperti digitalisasi biasa. Tapi lebih dari itu, ini adalah alat untuk memutus rantai ‘kebingungan sistemik’. Berapa banyak pasien yang akhirnya tak tertolong hanya karena tidak tahu rumah sakit mana yang masih punya ruang?
Lewat SIRANAP, informasi ketersediaan tempat tidur kini bisa diakses real-time. Satu klik bisa menyelamatkan satu nyawa. Ini bukan teknologi untuk gaya, tapi untuk hidup.
Di hadapan tenaga kesehatan, terutama para PPPK baru, Wali Kota menyampaikan pesan keras:
“Saya sendiri ke Jakarta urus SK kalian. Jadi saya minta satu saja: jangan khianati amanah ini.”
Ini bukan lagi soal jam kerja atau seragam. Ini tentang membangun kembali kepercayaan publik pada sistem layanan kesehatan yang selama ini dianggap kaku, lamban, dan tak manusiawi.
100 Hari yang Mengusik Nurani
Banyak kepala daerah menjadikan 100 hari kerja sebagai panggung pencitraan. Tapi hari ini, Kota Kupang menunjukkan arah berbeda: mengubah janji menjadi kebijakan, mengubah sistem yang mematikan menjadi layanan yang menyelamatkan.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak yang dibangun, tapi berapa banyak yang diselamatkan.( Arnold).

Tinggalkan Balasan