Kupang,– Praktik lancung percaloan kembali mencoreng wajah pelayanan publik di gerbang laut Nusa Tenggara Timur. Tim Resmob Ditreskrimum Polda NTT berhasil menggulung seorang pria berinisial AA, otak di balik modus penipuan tiket kapal Pelni yang meresahkan pemudik di Pelabuhan Tenau, Kupang.
Kasus ini menjadi sorotan nasional lantaran pelakunya menggunakan modus “rute bodong” yang sangat merugikan masyarakat kecil.
Pengungkapan kasus bermula dari laporan warga yang mencium aroma tidak beres dalam distribusi tiket di luar loket resmi. Merespons keresahan tersebut, tim di bawah komando IPDA Theorangga Rohi bergerak cepat melakukan infiltrasi di Pelabuhan Tenau tepat saat jadwal keberangkatan kapal berlangsung.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT, Kombes Pol Sigit Haryono, mengonfirmasi bahwa pelaku menyasar calon penumpang yang panik atau tidak terbiasa dengan sistem online.
”Pelaku menjalankan aksinya dengan menawarkan tiket di luar jalur resmi. Ini bukan sekadar percaloan, melainkan murni penipuan karena tiket yang diberikan tidak sesuai dengan kesepakatan,” tegas Kombes Pol Sigit.
Kelicikan AA terbongkar setelah tiga orang korban—Renci Baunaser, Fransina Lakapu, dan Embriani Selan—melapor ke pihak berwajib. Ketiganya berniat merantau ke Jakarta dengan memesan tiket tujuan Tanjung Priok.
Namun, alangkah terkejutnya mereka saat memeriksa manifes tiket. Tiket yang dibayar mahal tersebut ternyata hanya berlaku untuk rute jarak pendek menuju Maumere. Akibat aksi tipu-tipu ini, para korban mengalami kerugian total sebesar Rp2,1 juta.
Imbauan Kepolisian: Waspada Calo di Musim Padat
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran tiket cepat dari oknum di pelabuhan. Penggunaan aplikasi resmi atau pembelian di loket terverifikasi menjadi satu-satunya cara untuk menghindari jeratan calo.
”Kami tidak akan memberikan ruang bagi oknum yang memanfaatkan kesulitan masyarakat untuk keuntungan pribadi, terutama di fasilitas pelayanan publik seperti pelabuhan,” tambah pihak kepolisian.
Saat ini, AA tengah menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap apakah terdapat jaringan calo yang lebih besar yang beroperasi di wilayah hukum Polda NTT. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi otoritas pelabuhan untuk memperketat pengawasan demi kenyamanan para pengguna jasa transportasi laut.

Tinggalkan Balasan