NTT Jadi Pilot Project Nasional, Gubernur Melki Laka Lena Pimpin Gerakan Lawan Stunting dan Kemiskinan

Jakarta, – Pemerintah pusat semakin serius dalam menangani stunting dan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya dengan menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi percontohan untuk program Kolaborasi Penurunan Stunting dan Penghapusan Kemiskinan.

Langkah strategis ini ditandai dengan pertemuan antara Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI. Pertemuan tersebut membahas finalisasi Grand Design Kolaborasi dan Rencana Aksi yang akan menjadi cetak biru dalam mengatasi dua permasalahan krusial ini.

Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa upaya ini harus berjalan secara konkret dan terukur, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat luas.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Ini adalah gerakan besar yang harus dikerjakan bersama. NTT harus menjadi contoh bagaimana strategi kolaboratif dapat mengubah wajah Indonesia dari segi kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya,” tegas Gubernur Melki.

Sementara itu, Menteri Wihaji menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada sinergi lintas sektor. Pemerintah akan menggandeng Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Desa, serta berbagai universitas dan lembaga penelitian, seperti Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang.

“Riset dan inovasi harus menjadi bagian integral dari solusi, sehingga pendekatan yang diterapkan benar-benar efektif dan berkelanjutan,” ujar Menteri Wihaji.

Selain pejabat pemerintahan, pertemuan ini juga melibatkan para akademisi dan pakar dari berbagai institusi, termasuk Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng. (Dirjen Riset & Pengembangan Kemdiktisaintek RI) dan Prof. Budi Setiyono, S.Sos, M.Pol. Admin., Ph.D (Sesmen Kependudukan & Pembangunan Keluarga).

Gubernur Melki sendiri didampingi oleh Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Asti Laka Lena, serta Kepala Badan Penghubung NTT di Jakarta, Donald Izaac.

Pihak swasta juga didorong untuk terlibat aktif dalam program ini. Gubernur Melki menegaskan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan harus diarahkan untuk mendukung pengentasan stunting dan kemiskinan di daerah-daerah yang paling membutuhkan.

Grand Design yang telah difinalisasi akan segera diterapkan di NTT dengan strategi utama sebagai berikut:

Intervensi gizi spesifik dan sensitif untuk ibu hamil dan anak balita guna mencegah stunting sejak dini.

Penguatan ekonomi masyarakat miskin melalui program pemberdayaan berbasis komunitas agar mereka dapat keluar dari jerat kemiskinan.

Pendidikan dan pendampingan keluarga, terutama bagi ibu dan calon ibu, agar mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan dan gizi anak.

Sinergi dengan dunia usaha, sehingga lebih banyak program CSR yang diarahkan pada upaya pengentasan stunting dan kemiskinan ekstrem.

“NTT bukan hanya jadi proyek percontohan, tetapi juga bukti bahwa jika kita bekerja bersama, perubahan besar bisa terjadi. Stunting dan kemiskinan bukanlah takdir, melainkan tantangan yang bisa kita atasi,” ujar Gubernur Melki dengan penuh keyakinan.

Pemilihan NTT sebagai lokasi pilot project didasarkan pada tingginya angka kemiskinan dan stunting di provinsi kepulauan ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024 mencatat angka kemiskinan di NTT mencapai 19,48 persen atau sekitar 1.127.570 orang, menjadikannya salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di NTT mencapai 37,9 persen, menempatkannya sebagai provinsi kedua dengan prevalensi stunting tertinggi setelah Papua Pegunungan.

Angka-angka ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menjadikan NTT sebagai pusat inovasi dalam penanganan masalah stunting dan kemiskinan. Jika terbukti efektif, model yang sama akan diterapkan di provinsi lain dengan kondisi serupa.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, langkah besar ini diharapkan mampu menciptakan masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi generasi mendatang.

NTT kini bukan hanya menjadi titik awal perubahan, tetapi juga mercusuar harapan bagi Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang bebas dari stunting dan kemiskinan ekstrem.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa ketika seluruh elemen bangsa bersatu, Indonesia bisa lebih kuat, lebih sehat, dan lebih sejahtera.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *