Satu Tahun Melki-Johni: Antara Selebrasi Buku “Asa dan Rasa” dan Kritik Inklusivitas DPRD NTT

Kupang,– Panggung politik Nusa Tenggara Timur (NTT) memanas di Aula Utama El Tari, Kamis (9/4). Peluncuran buku refleksi satu tahun kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma bertajuk “Asa dan Rasa” berubah menjadi arena dialektika publik yang memikat perhatian nasional.

​Acara yang dirancang sebagai bentuk pertanggungjawaban moral ini tidak hanya menjadi seremoni birokrasi, namun bertransformasi menjadi ruang evaluasi terbuka yang membedah potret setahun perjalanan NTT di bawah nakhoda baru.

​Meletakkan Fondasi di Tengah Keterbatasan
​Dalam orasi politiknya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa buku ini adalah manifestasi dari pemerintahan yang transparan.

Ia mengakui bahwa masa jabatan satu tahun bukanlah waktu yang cukup untuk melakukan transformasi total, namun ia mengklaim fondasi inklusivitas telah diletakkan.

​“Satu tahun memang belum cukup mengubah segalanya, tetapi ini adalah langkah awal menegaskan arah komitmen. Pembangunan NTT tidak boleh elitis atau tersentralisasi,” tegas Melki di hadapan jajaran Forkopimda, akademisi, dan insan pers.

​Gubernur juga memberikan sinyal kuat akan adanya perombakan internal. Ia berencana melakukan evaluasi berkala terhadap ASN melalui penataan birokrasi dan penajaman program prioritas yang menyasar wilayah tertinggal, terutama dalam memerangi angka stunting dan kemiskinan ekstrem.

​Strategi Ekonomi Rakyat: Dari OVOP hingga NTT Mart

​Pemerintahan Melki-Johni memamerkan sejumlah program unggulan yang diklaim mulai menyentuh akar rumput, di antaranya:
​OVOP, OCOP, & OSOP: Strategi satu desa/komunitas/sekolah satu produk.
​NTT Mart & Dapur NTT: Upaya memperkuat ekosistem ekonomi dari desa dan pelaku usaha kecil.

​”Ekonomi harus tumbuh dari tangan-tangan rakyat agar manfaatnya tidak terpusat, tetapi menyebar menguatkan kehidupan masyarakat,” tulis narasi dalam buku tersebut.

​Kritik Tajam Ketua DPRD: “Buku Ini untuk Siapa?”

​Suasana refleksi yang semula tenang mendapat interupsi intelektual dari Ketua DPRD NTT, Emelia Nomleni. Dengan gaya bicara yang lugas, Emelia mempertanyakan apakah buku tersebut benar-benar sebuah refleksi jujur atau sekadar kumpulan laporan kerja yang dipoles.

​”Buku ini untuk siapa dan bedahnya untuk apa? Apakah sekadar kumpulan hasil kerja, atau benar-benar refleksi perjalanan satu tahun? Ini penting supaya kita tahu arah ke depan,” cetus Emelia.

​Politisi perempuan ini juga menyoroti absennya keterlibatan tokoh-tokoh perempuan sentral dalam narasi buku tersebut, termasuk mempertanyakan mengapa isu perlindungan perempuan dan kelompok rentan belum mendapat porsi pembahasan yang representatif.

​Meski melontarkan kritik pedas, Emelia mengapresiasi keberanian eksekutif untuk “ditelanjangi” melalui evaluasi publik. Menurutnya, tradisi mengakui kekurangan dan kelebihan secara terbuka adalah budaya baru yang sehat dalam pemerintahan NTT.

​“Ini budaya baik. Biasanya kita hanya bicara saja, tapi ini adalah keberanian menyampaikan kekurangan. Kita semua punya tanggung jawab. Jangan menyerah walau dalam kondisi sulit,” tutup Emelia.

​Peluncuran buku “Asa dan Rasa” ini mengirimkan pesan kuat ke level nasional: bahwa di NTT, demokrasi berjalan dinamis. Publik kini menanti apakah “Asa” yang tertulis dalam buku tersebut akan benar-benar menjadi “Rasa” kesejahteraan yang nyata bagi seluruh masyarakat NTT di sisa empat tahun masa jabatan yang ada.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *